Kamis, 07 Mei 2020

Beginilah Pengalaman Menerbitkan Tulisan di Penerbit Mayor dari Bapak Ukim Komarudin


Pengalaman Menerbitkan Tulisan di Penerbit Mayor


Seperti biasanya kuliah online ini  dibuka oleh Om Jay dengan sapaan yang khas.
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Selamat siang semuanya. Guru guru hebat Indonesia.
waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh
Siang ini kita akan mendapatkan tambahan pengetahuan dan pengalaman dari bapak Ukim Komarudin.Yang ditulis melalui percakapan Via WA Group  Belajar Menuli gelombang 9 yang dipandu oleh ketua kelas kita Mr. Bams
Inilah profil nara sumber kita :



Pengalaman Menerbitkan Tulisan di Penerbit Mayor


Saya sangat berterima kasih kepada panitia yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berbagi. Saya masih belajar. Jadi mohon maaf apabila yang saya sampaikan sederhana. Semangat berbagi yang menyebabkan saya berani berbagi dalam kesempatan seperti ini. mohon doanya, semoga bermanfaat

Pertama, saya berpikir, menulis merupakan ekspresi pribadi saya. Oleh karena itu, saya merasa sangat penting agar saya memiliki tempat mencurahkan segala kegelisahan atau apapun bentuknya. lalu saya menemukan menulis adalah sarana yang tepat buat saya. Saya tak pernah merasa khawatir, terkait dengan kualitas tulisan saya. Saya juga tidak perduli  dengan ragam atau apa yang menjadi trend di masyarakat. Pokoknya menulis. Menulis adalah kebutuhan. Saya merasa menemukan lebih tentang "saya" dengan menulis. Demikian hal itu terus berjalan hingga jika tidak dilakukan seperti ada sesuatu yang hilang. Demikianlah saya menulis dengan jujur, sejujur-jujurnya. Apa adanya.

Selain menulis apa adanya, saya pun menulis apa saja. Karena saya guru, saya menulis terkait pelajaran, beragam kegiatan berupa proposal, liputan kegiatan yang harus dituliskan di majalah, dan menulis buku harian. Begitu setiap saat diisi oleh menulis.

Hingga sampai suatu hari, tulisan-tulisan itu mulai dilirik orang-orang terdekat, yang dalam hal ini teman-teman guru. Satu dua teman berkomentar bahwa tulisan saya bagus. Istilah mereka, tulisan saya emotif. Kata mereka juga, tulisan saya dapat membuat pembaca larut dalam cerita. Ada juga yang mengatakan bahwa bahasa saya sederhana dan mudah dicerna oleh pembaca. Ada juga yang mengaku bahwa sepenggaltulisan saya dapat dijadikan ceramah atau kultum, dsb.
Karena komentar tersebut, saya mencoba membukukan tulisan-tulisan saya yang selama ini merekam semua kejadian karena saya memang senang membuat buku harian. Ada beragam kejadian, tetapi tema besarnya, yang saya tuliskan merupakan pelajaran seorang dewasa (guru) dari anak-anak "cerdas" yang menjadi siswanya. Oleh karena tulisan itu beragam kejadian, beragam waktu, dan dari beragam tokoh, maka saya menuliskan judul buku tersebut, "Menghimpun yang Berserak." Sebuah usaha untuk mengumpulkan segenap mutiara yang berserakan dalam kehidupan yang sangat bermanfaat bagi saya, dan semoga bermanfaat pula buat orang lain (pembaca).

Demikianlah waktu itu, saya yang kebetulan menjadi penanggung jawab penerbitan buku di sekolah menyisipkan karya pribadi, selain karya bersama (berlima) menulis dan berupaya buku mata pelajaran.

Mr. Bams dan teman-teman yang kreatif,
Saya diinterview terkait dua bagian buku. Pertama, buku bersama yakni buku mata pelajaran. Kedua, buku pribadi saya, "Menghimpun yang Berserak." Dalam kesempatan interview itulah saya banyak mendapatkan pengetahuan terkait tips dan trik menerbitkan buku.


Saya banyak mendapatkan pelajaran menyangkut hal-hal yang tadinya tidak saya pikirkan. Pelajaran atau informasi itu awalnya, membuat saya tidak nyaman karena menabrak prinsip menulis saya. Umpamanya, "Apakah ketika  saya menulis buku"menghimpun yang Berserak" ini sudah memperkirakan akan laku di pasaran?" Kalau sudah ada,  apakah buku saya punya nilai tambah sehingga pembaca melirik dan membeli buku saya? Untuk kepentingan pasar, "Apakah saya bersedia apabila beberapa hal terjadi penyesuaian (diganti)? dst. Terus terang, saya merasa kurang nyaman dengan interview itu. Saya merasa diam-diam mulai "dipenjara". Inikan ekspresi pribadi saya, mengapa orang lain bisa mengatur hal-hal yang sangat privasi? Menyebalkan! Begitu, oleh-oleh pulang dari interview.

Jujur, ada jarak agak lama berselang setelah kejadian itu. Saya menganggap perlu waktu untuk menjernihkan pikiran. Untunglah manusia itu punya sahabat. Saya menceritakan permasalahan yang saya rasakan kepada teman yang sudah menjadi penulis "beneran". Hebatnya, beliau menceritakan bahwa pengalaman yang saya dapatkan itu baik dan mestinya disyukuri. Ia kemudian menjelaskan tentang proses menulis yang melibatkan tim agar tulisan yang kita buat sampai kepada pembaca. Ia menyudutkan saya dengan mengatakan bahwa sikap saya menyebabkan tulisan saya hanya untuk sendiri. kalau pun nanti ada yang membaca itu hanya segelintir orang saja. Itu berarti, saya minimal dalam memberi manfaat buat orang lain atau istilah lainnya saya egois.

Saya yang tersadar mendapatkan ilmu pengetahuan lebi ketika beliau menjelaskan tentang tim yang akan menyebabkan karya saya dapat dinikmati orang banyak. Beliau menjelaskan bahwa yang menanyai saya itu mungkin editor. sebab, beliaulah garda depan yang menentukan naskah itu layak diterbitkan atau sebaliknya. Menurut teman saya itu, naskah saya sepertinya  punya potensi atau "layak" untuk diterbitkan. Tetapi sebagai pemula, karya saya memang harus dipoles di sana sini.

Jika nanti naskah itu bisa melewati editor, maka proses "menjadi" memang mengalami banyak hal. Ada bagian gambar sampul, ilustrasi, photo jika diperlukan, tata letak, dan lainnya. Yang jelas, semuanya merupakan tim saya. Kasarnya, semuanya akan menyukseskan saya, begitu teman saya meyakinkan saya.

Oleh-oleh itulah yang menyebabkan saya menindaklanjuti pertemuan dengan penerbit. Selain hal-hal yang umum tentang buku mata pelajaran yang ditulis bersama, saya mengkhususkan pikiran ke buku "Menghimpun yang berserak". Yang menenangkan, editor menceritakan bahwa semua hal menangkut buku saya selalu dalam konfirmasi. Artinya, semuanya akan terjadi jika saya setuju.

Demikianlah saya menjelani proses, hingga akhirnya ada proses sebelum naik cetak,  yang sangat penting dalam proses kreatif saya, yakni menerima dami atau calon buku yang sama persis jika akhirnya bisa dicetak. Saya gembira sekali menerima buku dami itu. Terus terang saking gembiranya, saya menandatangi saja kontrak kerjasama tanpa membaca persentase yang kelak saya terima. Diduga sikap itu bukan sembrono, tetapi karena memang saya menulis bukan untuk hal tersebut.

Demikianlah saya menjelani proses, hingga akhirnya ada proses sebelum naik cetak,  yang sangat penting dalam proses kreatif saya, yakni menerima dami atau calon buku yang sama persis jika akhirnya bisa dicetak. Saya gembira sekali menerima buku dami itu. Terus terang saking gembiranya, saya menandatangi saja kontrak kerjasama tanpa membaca persentase yang kelak saya terima. Diduga sikap itu bukan sembrono, tetapi karena memang saya menulis bukan untuk hal tersebut.

Akhirnya, saya mendapat konfirmasi ketika saya dapat kabar bahwa ada meeting terkait dengan terbitnya buku saya. Pertama, saya menerima buku pribadi, kalau tidak salah jumlahnya hanya 5 buku. Buku tersebut berstempel tidak diperjual belikan. Kedua, saya diajak bicara terkait dengan teknis launching Buku "Menghimpun yang Berserak". Ini soal bagaimana membuat buku saya laku. Saat itu saya sangat bodoh dan kurang dapat memberikan masukan hyang berarti. Ketiga, saya diberitahu bahwa penerbit menerbitkan jumlah yang diterbitkan pada penerbitan pertama ini dan kurang lebih 6 bulan kemudian saya baru akan mendapat royaltinya. Untuk tersebut juga saya tidak pandai memberi masukan.

Peran saya kemudian adalah mengusahakan buku saya dapat dinikmati orang lain. Kala itu agak sulit karena media sosial belum sedasyat sekarang. kebetulan saya pembicara, saya berupaya menjual buku-buku saya pada kesempatan bicara tersebut.

Ada beberapa kejadian menerbitkan buku kembali, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya hingga yang menjelang terakhir buku, "Arief Rachman Guru". Semuanya mirip-mirip pengalaman dengan penerbit. Kurang lebih, seperti itulahkira-kira. mohon maaf apabila kurang lengkap. semoga dapat dilengkapi ketika nanti tanya jawab.

Demikian untuk sementara, Mr. Bams.
Luar biasa, Om Ukim bisa tarik nafas dulu y
Penjelasannya luar biasa

Saat Sesi Tanya Jawab
Pertanyaan saya akan berikan kode P1 dan seterusnya, lalu Narasumber memberikan jawaban diaakhiri dengan chat baris terakhir dengan hurur N

Sesi Pertanyaan
Assalamu'alaikum. Saya Ratna Jumpa dari Sigli Aceh, ingin menanyakan kepada Bapak, bagaimana  kriteria layak atau tidaknya sebuah buku dapat di terbitkan oleh penerbit terutama buku pelajaran. Trima kasih.

Ibu Ratna yang baik. Memang ada kriteria yang dianggap layak untuk diterbitkan. Khususnya terkait buku mata pelajaran, biasanya mereka mencari buku: (1) menunjukkan penggunaan pendekatan baru; (2) lebih lengkap; (3) penulisnya memang berkualifikasi luar biasa; (4) Naskah renyah (enak dibaca);  dan diutakan dari hasil penelitian lembaga-lembaga pendidikan terbaik. N

Assalamualaikum Om Ukim yg budiman, perkenalkan sy Syukri dari SMAN UNGGUL Dharmaraya Padang, saya bertanya ttg pengalaman om Ukim dalam tulis menulis:
1.      Jeda berapa lama tulisannya mulai di lirik ?
2.      Media apa yang digunakan  mempublish tulisan om pertama kali ?
3.      Gimana latar belakang buku guru juga manusia sehingga bisa best seller,  dan buku besy seller tsb brp exsemplar laku dan brp oom dapat royalti dr buku tsb.(maaf agak privasi) ?
4. Dari awal mulai om menulis sanpai sekarang, ada ndak berubah motivasi oom ukim dalam menulis?
5.  Saat  oom di intervew sama siapa, dan apa hal yg sangat berkesan dari intervew tsb?
6.  Keseharian  om ukim seperti apa kesibukannya?
7.   Apakah  buku karya om ukim semua diterbitkan di mayor?
8.  Buku  mengumpulkan yg berserK tsb berapa naskah semua, naskah mana yg paling berkesan dan berapa lama munulis buku tsb.
9. Efek hanya pertabyaan, ya jdnya pertanyaannya meng ular. Thanks.

Om Syukri yang kreatif. Paling lama 6 bulan. Jika tidak ada kabar. Berpindah ke lain hati (penerbit lain) atau naskah direvisi ulang. Saya menulis di buletin sekolah, kemudian buletin pendidikan DKI, lalu buletin Diknas, dst. Buku  Guru juga Manusia bisa terjual banyak karena bantuan publikasi media sosial yang saaat itu sudah mulai menggejala. Untuk buku berikutnya, saya mendapatkan berkah dari medsos itu. Saya tipe penulis. Mungkin, lebih banyak buku yang tidak saya terbitkan daripada yang saya terbitkan.

Saya memang bukan tipe pandai menjual ide. Saya senang menulis. Yang menarik buat saya tulis, ya saya tulis. Tak peduli tak dilirik penerbit. Tapi Allah maha pengasih. Beberapa sering dilirik penerbit dan jadi berkah buat keluarga.
Yang interview dari dulu sampai kini sudah saya tahu. Pasti dia editor. Dialah penentunya. Saya sering berdoa, dan ternyata sering benar, "Dia lebih pintar dari saya". Minimal soal membuat buku saya laku di pasaran.

Semua buku berkesan. Dia seperti anak saya. Dia ada yang berkembang dan bermakna bagi masyarakat luas. Ada juga yang diam-diam hanya dibaca sahabat dekat ketika dia terpuruk di sudut kamarnya. Semuanya saya syukuri. Ia lahir dari saya, saya bangga atas rezekinya.

Assalamu’alaikum Mr. Bams. Mau tanya kepada Pak Ukim Komarudin
Jika menulis di mayor di kasih waktu berapa lama untuk menulis setelah menyetorkan judul atau setelah kontrak di berikan, apakah setelah mendapat kontrak menulis di penerbit mayor, akan di tawari kerja sama lagi setiap tahunnya?
Mohamad Soni Jombang


Pak Mohammad Soni yang baik, ketika bertemu penerbit saya sudah bawa naskah utuh. Dari naskah itu kita mulai bicara. Saya sering diminta menulis terus oleh beberapa penerbit karena beberapa buku saya yang dipergunakan di lembaga pendidikan terbit terus. mungkin sekarang sudah jilid  belasan. Masalahnya di pembagian waktu atau prioritas. kelemahannya juga ada di saya. Pribadi saya kurang bisa kompromi. Tapi percayalah, dari karya Bapak yang sungguh-sungguh akan ada tawaran berikutnya. Masalahnya, Bapak berkenan membagi waktu dan prioritas?

Saya ,Sri Budi Handayani dari Gresik mau bertanya Bagaimana mengetahui gaya selingkung penerbit.

Ibu Sri, saya termasuk orang yang nggak mau belajar tentang itu. Bisa terkuras energi kita jika memikirkan hal itu. Itu sebabnya, saya menulis untuk diri saya. Jadi, ketika itu jadi duit, alhamdulillah. Lalu, saya tak mendapat konfirmasi sekaligus royalti, padahal di belakang saya mereka menerbitkan dan menjual buku saya. Silakan. Makan tuh rezeki saya semoga jadi amal yangdipakai kebaikan. Saya kurang suka dengan hal-hal yang diluar jangkauan saya.

Pertanyaan pertama : Saya dulu menulis banyak novel,dan cerpen tapi tidak sampai klimaks sudah bosan.Bagaimana cara mengatasi nya?
Pertanyaan kedua,saya suka menulis novel.Tapi,kenapa saya terus mengulang ulang kesalahan yg sama. Misal tokoh terlalu banyak,jalan cerita mudah ketebak,bagaimana cara mengatasi nya?
Pertanyaan ketiga,saya mempunyai asisten penulis novel-->2 teman saya beda kelas dan teman saya satu kelas.Alasan saya butuh asisten karena mereka sebelumnya pernah menulis novel di wattpad dan menjadi suka menggambar.Sehingga diharapkan agar ceritaku bisa dilihat dari sudut pandang bayak orang,tapi apakah langkah itu sudah betul?
Pertanyaan ke empat,karena banyak orang yang membatu saya,apakah mereka disertakan dalam bagian abstrak/pengenalan penulis,e…

Bapak siapa, ya? Diduga Bapak salah memilih kategori ekspresi menulis. Bapak harus menempatkan diri sesuai stamina dan kecenderungan Bapak. Ada tipe sprinter, maka pilih cerpen. Kalau Marathon, pilih novel. Mungkin bertahap ya, pak. dari lari jarak pendek karen latihan akhirnya bisa lari jarak jauh.

Ada yang disebut, Premis (tema besar). Biasa terdiri atas satu paragraf. Hebatnya, ia adalah sebuah headline yang memegang pergerakan ide, tokoh, dan alur cerita. Penulis hebat memulia dari itu, Pak. Percayalah, jika tidak memulia dari situ, kemungkinannya kalah tenaga, atau ngawur kemana-mana.

Saya  tipe orang yang sering menyembunyikan karaya jika belum final. Saya orang teater, pak. Saya suka membuat kejutan dengan membina puncak-puncak cerita. termasuk di sini kelahiran anak (karya) saya yang mengejutkan.

Permasalahan penulis pemula sering serakah. Jadi penulis sekaligus editor. Akhirnya, nggak jadi-jadi. Baru satu bab dikoreksi. Baru lima lembar disalahkan sendiri. Ya Ambyar.
Tulis saja, nanti ada jurinya: diri sendiri, teman penulis, dan akhirnya editor. Jika mereka menganggap tulisan bapak nggak laku di pasaran, tapi Bapak bilang itu bagus tak apa. Ada suatu masa yang dikatakan banyak orang jelek, saat itu malah dicari dan dibenarkan orang.

Benar, Pak. Membaca yang banyak dan siapa saja yang Bapak suka. Hebatnya, Tuhan Mahakreatif dan Penyayang. Kita akan tumbuh menjadi diri sendiri tidak seperti Tere dan lainnya. Memang ada sedikit unsur, seperti ... tapi dalam dunia imajinassi itu sah. namanya terinspirasi oleh …


Nama : makhmud , Asal : gempol pasuruan
Boleh tanya pak ,
1. Saya baru akan menulis buku , pengalaman bahan utk menulis sudah ada akan tetapi memulai menulisnya kesulitan ,
Bagaimana  memulai menulis buku yang bisa meyakinkan bagi penulis .

Pak Makhmud yang berani, Mulailah menulis dengan membaca buku-buku yang diduga akan mirip ekspresi bentukannya seperti buku yang akan Bapak buat. Ketika kita datang ke perpustakaan atau toko buku, kita membaca untuk mendapatkan inspirasi. kadang-kadang, saya membeli buku atas tujuan seperti itu, Pak.
Tentang meyakinkan memang dimulai dari Bapak dahulu. kalau Bapak kurang yakin, celakanya pembaca juga demikian. Mulailah banyak membaca karya-karya yang bagus yang menjadi minat Bapak. Dari situ, bapak punya standar sendiri.

Ass . wr wb. saya hetty setyoningrum dari smpn 1 kaloran temanggung, jawa tengah...ingin bertanya adakah tips dan trik agar kita bisa menjadi penulis produktif yang layak diterbitkan? bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya diri dalam menulis(memulainya)? terimakasih. wass.wr.wb

Sahabatku Hetty, penulis yang baik memang pembaca yang baik. Banyak-banyaklah membaca sehingga akan mampu menulis. Saya setuju  dengan himbauan menulislah setiap hari. Tapi tolong disertai membaca agar tulisan kita berkualitas.  Itu hukumnya, Het. Menulis (produktif) pasokannya adalah membaca (receptif).
Manulis saja. Dengarkan respons dari sekitar. Kita memang membutuhkan orang yang membuat kita terlecut menjadi lebih baik.

Yulus Roma - Tana Toraja: Luar biasa pengalamannya pak, pertanyaan saya, apakah gaya bahasa sehari-hari bapak tertuang persis sama dengan gaya menulis di buku? Bagaimana mengolah bahasa sehari-hari agar renyah dibaca orang? Terima kasih.

Yulus yang baik, pada akhirnya kita akan menjadi diri kita sendiri. Termasuk dalam hal karya. Yulus akan menemukan warna, tipe, dan kekuatan sendiri dalam menulis. Ketika teman-teman Yulus memuji tulisan Yulus, maka di saat itulah kualitas naik ke permukaan. Teruskan dan pupuk kekuatan itu. Sampai kalau serpihan tulisan Bapak terjatuh di jalanan, ada seorang teman yang mengatrakan kepada Anda bahwa ini tulisan milik Anda. Kita akan bertanya, "kok tahu sih ini tulisan saya?" Dia kan jawab, "Saya sudah hapal itu Gaya Yulus."

Kesimpulan :
Ada kehebatan dari seorang penulis. Ia jelas ekspresinya. Ia juga punya daya jangkau dakwah yang lebih luas dalam menebar kebaikan. Ia juga punya legacy atau warisan untuk pertinggal jejak kebaikannya, yakni tulisannya. Menulislah, setiap hari. karena anda akan menemukan kebahagiaan; menulis berarti kita MENCIPTAKAN SEJUMLAH KEBAIKAN.

Peresum :

Busahman



KIAT MENULIS DALAM KESIBUKAN


KIAT MENULIS DALAM KESIBUKAN




Hari  ini Selasa, 5 Mei 2020, Pukul 13.00  – 15.00 WIB, yang menjadi narasumber  Prof. Much. Khoiri (Master Emcho), Dosen & Penulis 42 Buku, Unesa Surabaya, di bantu Oleh Om Jay pemilik labsschool yang selalu membuka perkulihan dengan materi :
Menulis dalam Kesibukan”.

Profil Much. Khoiri

Lahir di Desa Bacem, Madiun 24 Maret 1965, Much. Khoiri kini menjadi dosen dan penulis buku dari FBS Universitas Negeri Surabaya (Unesa), trainer, editor, penggerak literasi. Alumnus International Writing Program di University of Iowa (1993) dan Summer Institute in American Studies di Chinese University of Hong Kong (1996) ini  trainer untuk berbagai pelatihan motivasi dan literasi. Ia masuk dalam buku 50 Tokoh Inspiratif Alumni Unesa (2014). Pernah menjadi Redaktur Pelaksana jurnal kebudayaan Kalimas dan penasihat jurnal berbahasa Inggris Emerald. Pernah menjadi redaktur Jurnal Sastra dan Seni. Selain menghidupkan beberapa komunitas penulis, ia juga pernah mengomandani Ngaji Sastra di Pusat Bahasa Unesa bersama para sastrawan. Karya-karyanya (fiksi dan nonfiksi) pernah dimuat di berbagai media cetak, jurnal, dan onlinebaik dalam dan luar negeri. Ia telah menerbitkan 42 judul buku tentang budaya, sastra, dan menulis kreatifbaik mandiri maupun antologi. Buku larisnya antara lain: Jejak Budaya Meretas Peradaban (2014), Rahasia TOP Menulis (2014), Pagi Pegawai Petang Pengarang (2015), Much. Khoiri dalam 38 Wacana (2016), kumpuis Gerbang Kata (2016), Bukan Jejak Budaya (2016), Mata Kata: Dari Literasi Diri (2017),  Write or Die: Jangan Mati sebelum Menulis Buku (2017), Virus Emcho: Berbagi Epidemi Inspirasi (2017), Writing Is Selling (2018), Praktik Literasi Guru Penulis Bojonegoro (2020), Virus Emcho: Melintas Batas Ruang Waktu (2020), dan SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan (2020). Sekarang dia sedang menyiapkan naskah buku tentang menulis, budaya, literasi, dan karya sastra (puisi dan cerpen). Dia cukup aktif menulis di muchkhoiriunesa.blogspot.com;  www.kompasiana.com/much-khoiri; muchkhoiri.gurusiana.id.; jalindo.net; dan sahabatpenakita.id.
Instagram: @much.khoiri dan @emcho_bookstore.
Emailnya: muchkhoiriunesa@gmail.com dan muchkoiri@unesa.ac.id  HP/WA: 081331450689. Facebook: Much Khoiri-90.


Pada   hakekatnya semua orang memiliki kesibukan.  Dimanapun orang berada pasti ada kesibukan.  Kita manusia itu adalah subjek. Subjek tanpa kerja hanyalah entitas yang mati tanpa makna kontekstualitas . Tidak ada gunanya orang yang tidak bisa melakukan apapun.  Kesibukan bukanlah sebuah alasan untuk tidak menghasilkan sebuah karya apapun.






Kesibukan, harus kita atur dengan menyiasati hidup bersamanya. Bila sikap positif, maka menghasilkan hal yang positif. Namun sebaliknya bila sikap kita negatif menyikapi kesibukan ,akan menghasilkan hal yang negatif pula. Kesibukan selalu  bersama kita, dan jangan menyerah terhadap kesibukan, jadi perlu kita menyikapi kesibukan dengan menanganinya sampai kita tetap bisa melakukan kegiatan lainnya.


Jika kita sudah menyikapinya dengan positif, maka kita akan bisa melakukan aktifitas menulis . Suatu saat kita akan bisa menikmati kesibukan itu. Penulis sejati dan handal akan mencurahkan daya pikiran dan imajinasi untuk menghasilkan tulisan. Seandainya kita tidak sedang  menulis, kita Pasti sedang memikir- kan tentang apa yang  akan kita tulis. Akan ada waktu istimewa yang dipilih kita , yang kita anggap paling nyaman supaya larut dalam menulis. Kita tidak akan pernah membiarkan  hari hari kita tanpa menulis. Menulis sama wajibnya dengan membaca karena dengan membaca banyak ide yang akan muncul,jangan menunggu ide turun dari langit atau menunggu ide keluar dari perut bumi. Ini untuk menguatkan diri kita untuk menjalani tiap kesibukan dengan positif.


Mengapa Harus Menulis?


Saat kita bicara dengan lisan, Ungkapan lisan hanya terlintas sesaat saja, namun saat kita menulis, ungkapan kita akan selalu menggema hingga berabad-abad. Ungkapan lisan kita akan musnah bila tidak kita tuliskan . Menurut Pramoedya Ananta Toer: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.  Menulis merupakan bekerja demi keabadian”.  Di kutip dari pendapat Budi Dharma, penulis itu memiliki kedudukan yang mulia, begitu seorang pengarang mati, tugasnya sebagai pengarang tidak bisa diambil alih oleh orang lain. Sebaliknya jika  Dekan ,Camat ,Mantri dan polisi meninggal dalam waktu singkat akan ada orang yang dapat dan mampu menggantikan nya. Betapa pentingnya alasan untuk kita menulis untuk sesuatu yang memang perlu diperjuangkan.


Kenapa Kita Melakukan Didikan Diri Untuk Menulis?


Dalam konteks menulis dalam kesibukan. Kita perlu menguatkan dalam diri, bahwa harus melakukan didikan diri untuk menulis.  Kita tidak hanya bisa menjadi orang lain tetapi perlu menerapkan Pendidikan terhadap diri sendiri. Menulis di sini tidak hanya bisa diajarkan pada orang lain. Jadi kita perlu mendidik diri supaya kita juga tahu bahwa akan ada tugas yang harus diselesaikan dan seterusnya. Mendidik diri di sini sendiri menulis.Menulis bukan hanya membuat diri Kompeten di bidang menulis , melainkan juga berani menegakkan prinsip reward and punishment. Ada hadiah  ada juga hukuman. jadi kalau menulis , Katakanlah kita tidak disiplin menggunakan waktunya. Maka perlu ada punishment atau hukuman pantasnya silakan diadili .Kita Seorang Guru bisa menghukum siswa Berarti kita juga harus bisa menghukum diri sendiri. Sebaliknya jika melampaui target, seperti mampu menyelesaikan tulisan buku lebih cepat dari waktu yang ditentukan, maka kita perlu memberikan hadiah buat diri kita, seperti liburan, jalan-jalan, dsbnya. Mendidik diri itu sangat perlu, penting untuk diterapkan, jangan hanya bisa mendidik orang lain, tapi penting mendidik diri sendiri.


Menulis itu berkomunikasi bukan hanya berekspresi



Menulis itu berkomunikasi, bukan hanya berekspresi. Berekspresi hanya sebatas menyatakan saja. Kalau kita berkomu-nikasi , berarti kita berhadapan dengan orang yang kita ajak berkomunikasi. Kalau seorang penulis berarti komunikasinya pada membaca. Plato mengatakan, when wiseman speak because they have something to say, fools because they have to say something.  Orang bijak bicara karena mereka punya sesuatu untuk disampaikan atau dikatakan, orang bodoh bicara karena harus menyatakan sesuatu. Artinya orang bijak bisa saja diam dan dia kan bicara ketika ada sesuatu yang penting untuk disampaikan, sementara orang bodoh bicara sesuatu yang tidak penting, omong kosong. Jadi kita menulis karena ada sesuatu yang kita sampaikan seperti pengalaman, perasaan, gagasan, dsbnya.  Kita dan membaca itu harus dibayangkan bahwa kita ada dalam sebuah forum saling berhadapan. Karena itu ada sudut pandang yang kita gunakan, seperti saudara, pembaca, anda, kita sekalian, dan seterusnya. Jadi jangan sampai kita salah posisi dalam menulis.


Selanjutnya Materi tulisan harus selaras dengan kebutuhan pembaca. Menulislah yang dibutuhkan pembaca. Jangan menulis sesuka hati. Harus memperkirakan apa yang sejatinya dibutuhkan pembaca.Tulisan harus terorganisir, enak dilihat, enak dibaca, jangan sampai satu halaman hanya terdiri atas satu paragraf. Itu membuat orang jenuh bahkan sakit kepala membaca. Harus diatur dengan benar hubungan antar kata-kata, hubungan antar kalimat dalam paragraf, hubungan paragraf antar paragraf, dstnya supaya pembaca tertarik dan mengikuti penjelasan dalam buku hingga tuntas. Bahasa komunikatif sesuai dengan genre tulisan. Kalau tulisan ilmiah menggunakan bahasa ilmiah. Jika tulisan ditujukan untuk pembaca umum, maka bahasanya semi ilmiah atau dalam bentuk tulisan populer (monograf). Tulisan populer sifatnya menyapa masyarakat. Atau jika ingin menyampaikan pesan harus menggunakan bahasa yang enak dibaca dan mudah dipahami.


Oh,Ya inti pembicaraan narasumber kita ini yaitu apa  strategi yang bisa diterapkan dalam menulis di tengah kesibukan. Strategi ini tertuang dalam buku terbaru karya Bapak Prof. Much Khoiri “Sopo  Ora Sibuk (Siapa tidak Sibuk )”, Menulis Dalam Kesibukan, selaku narasumber yaitu:


1. Tetapkan niat menulis.

Niat dan keyakinan akan menjadi daya dorong ketika kita belum bangkit dan menjadi daya tahan ketika ada godaan. Ketika kemalasan datang, maka niat akan mendorong untuk menulis. Godaan untuk melakukan hal-hal lain yang kurang berguna, seperti menonton infotainment, akan didorong oleh niat. Niat harus kuat. Niat terbagi atas dua ada yang umum dan filosofis, misalnya menulis untuk beramal dan mencerdaskan bangsa. Dan niat yang kedua menulis untuk menghasilkan uang, untuk tambahan penghasilan, untuk dokumen naik pangkat.



2. Rajinlah membaca

Membaca seperti sedang melihat masa lalu dan masa depan. Membaca itu biasanya mendahului menulis, pemicu menulis selalu digedor membaca. Ketika kita membaca buku-buku yang bagus, maka suatu saat buku yang bagus akan keluar dari diri kita. Sumber inspirasi yang memperkaya wawasan kita terdapat pada asumsi-asumsi, kutipan-kutipan yang terdpat pada buku-buku yang bagus dan berkualitas.



3. Gunakan alat perekam gagasan

Kita sehari-hari bepergian jangan lupa merekam hal-hal yang menarik dengan kamera. Selebihnya siapkan catatan kecil. Kemanapun kita pergi, selalu ada materi dan sumber inspirasi yang bisa kita abadikan yang nantinya bisa dituliskan dan memperkaya tulisan kita. Prinsipnya adalah kita harus membuka pikiran pada segala masukan. Max Roberts mengatakan; Human mind is like an umbrella. It functions best when opened. Pikiran kita seperti payung yang berfungsi dengan baik ketika terbuka. Tersedianya alat perekam akan membantu kita untuk mendokumentasikan banyak hal di sekeliling kita sebagai sumber ide.



4. Kobarkan inspirasi menulis

Inspirasi adalah pengetahuan awal yang dimiliki oleh seseorang. Ilham atau sesuatu yang membuat kita memunculkan ide yang paling bagus. Inspirasi tumbuh dan berkembang berkat kekayaan pengetahuan dan sebuah pemicu. Kayanya pengetahuan dan adanya pemicu akan menghadirkan sebuah inspirasi. Jangan menunggu inspirasi, karena seorang penulis tidak pernah menunggu inspirasi.



5. Tentukan waktu utama

Menentukan waktu utama menulis, apakah pagi hari, sore atau malam. Artinya kita bisa mengalokasikan waktu. Waktu utama menulis tidak boleh berbenturan dengan waktu kerja, harus di luar jam kerja. Selanjutnya kita harus merasa nyaman saat menulis dengan pilihan waktu yang kita tentukan. Pegang komitmen untuk disiplin terhadap waktu yang ditentukan. Sehingga membangun visi fisiologis, membiasakan diri kita.


6. Bagi pemula, menulislah dengan bebas

Membiasakan diri dengan menulis bebas, menulis spontan, free writing, menulis tanpa takut terhadap aturan-aturan menulis. Curhat dalam menulis, menggunakan bahasa tutur, saya dan aku. Orang yang menulis bebas sebenarnya sedang memaksimalkan kerja otak kanan dan meminimalkan kerja otak kiri. Otak kanan spontan, penuh kebebasan dan tanpa atuan. Otak kiri menuntut kerja teratur, sistematis dan penuh pertimbangan.



7. Menulis di dalam hati

Di manapun kita berada kita bisa memikirkan apa yang akan kita tulis. Jangan melewatkan ketika ada ide. Langsung proses dalam pikiran.



8. Menulis di waktu utama

Menulis di waktu yang telah diprioritaskan. Bisa dibantu dengan menyediakan waktu luang. Artinya menetapkan waktu menulis itu sangat penting.



9. Menulis yang dialami.

Tulisan yang bersumber dari catatan perjalanan, entah itu berkemah, jalan-jalan, dll.



10. Menulis yang dirasakan

Kita bisa memanfaatkan kekuatan perasaan yang kita tuangkan dalam tulisan.


11.  Menulis selaras minat atau pekerjaan

Menuliskan tulisan terkait pekerjaan yang dijalani. Semua orang punya pengalaman menarik dalam pekerjaan.


12.  Menulis dengan riang

Menulis dengan perasaan bahagia. Seseorang tidak akan pernah menyelesaikan sesuatu jika ia tidak bahagia.


13. Menulis yang banyak

Menulis satu dua tiga halaman tiap hari. Kuantitas bisa menghasilkan kualitas.


14.Read better and write faster

Pintar membaca dan menulis dengan lebih cepat. Misalkan menulis biasanya 3 jam untuk satu artikel maka biasakan selesai satu jam.


15. Membuat motto yang dahsyat

Sebagai pemberi semangat melakukan sesuatu.


16. Menulis dengan doa

Setiap kita mau menulis, jangan lupa berdoa.


17. Strategi  Menulis  dalam Kesibukan 

Bisa diambil yang relevan dengan kebutuhan diri sendiri. Tidak harus dipraktekkan semuanya. Sesuaikan dengan kemampuan. Diupayakan ada rasa sensitif dalam diri kita menangkap ide-ide untuk tulisan.



Tips yang paling cocok buat kita yang selalu kesulitan untuk bisa menulis dalam kesibukan adalah Ketika kita sangat sibuk, jangan lupa mencatat poin-poin penting, menyiapkan alat perekam, disertai niat untuk menuliskan apa yang telah dicatat. Harus selalu dicoba, melatih diri dan telaten, sehingga bisa mengembangkan artikel untuk jadi tulisan. Waktu untuk seorang penulis pemula untuk terampil menulis bisa bervariasi, tergantung pada niat dan ketelatenan. Tiap hari menulis dengan tekun. Jangan kalah dengan kesibukan sendiri.

Menulis dalam hati sama dengan menulis dalam kertas yang dipindahkan dalam ingatan. Direkam dalam pikiran. Ketika sampai di rumah segera direalisasikan dalam tulisan. Dilatih dan lama-lama akan banyak.Mendasari diri dengan komitmen membaca dan menulis itu wajib. Kalau ada yang dibaca berarti harus ada yang ditulis. Jadikan menulis itu kewajiban. Menyiapkan waktu khusus untuk menulis. Anggaplah tidak menulis itu sebagai sebuah utang tiap hari. Waktu harus dikelola dengan baik. Kekuatan fisik, mental dan semangat berbeda bagi tiap orang. Minimal siapkan jadwal dan membuat skala prioritas tiap hari. Artinya pengelolaan diri sendiri terhadap kesibukan.Cara mengelola ide dan gagasan harus konsisten. Sudah punya rancangan apa yang mau ditulis. Konsisten pada rancangan. Jika ada ide baru muncul, segera catat di tempat lain. Jangan tinggalkan ide yang utama yang harus diselesaikan. Ide yang mampir jadikan sebagai tambahan dalam tulisan. Jangan membiasakan diganggu oleh ide baru yang muncul.Sempatkan menulis, jika ada ide yang mampir di pikiran, berpikir cepat dan mencatat poin-poin.  Ketika tiba di suatu tempat, tuangkan di kertas, supaya ada paparan ide yang jelas. Hal ini untuk membantu pikiran kita bekerja. Menulis adalah berpikir di atas kertas.


Banyak ide itu tidak masalah, tinggal dikelola dan ditindaklanjuti.
Terus menulis dan dituntaskan. Teruskan saja tulisan hingga cukup banyak, nantinya bisa diminta penulis senior untuk mereview dan membacanya. Fiksi dan nonfiksi tidak masalah. Cerpen dan novel tidak selamanya imajinasi, bisa juga memuat fakta.Pantas tidaknya tulisan, tidak perlu diperhatikan, diabaikan saja. Perlu diingat, belum tentu pengkritik itu mampu menulis. Anggaplah pengkritik angin lalu. Lebih baik melakukan sesuatu yang salah dari pada tidak pernah melakukan apapun. Terus saja berkarya.


Menulis biografi orang tidak seperti curhat, tapi menggunakan sudut pandang yang ketiga, menggunakan kata ‘dia’, karena menulis tentang seseorang, harus didukung data-data yang bagus, hasil wawancara, bertanya pada keluarga, teman supaya kaya ide dan informasi sehingga biografinya kaya. Autobiografi itu tentang diri sendiri, bercerita dengan kata ‘saya’.


Jika perasaan menulis hilang maka perlu, recall, memanggil ulang memori-memori yang hilang. Memanggil kembali ingatan yang hilang. Jika perlu merenung, agar kondisi yang hilang bisa muncul kembali. Kemampuan membang- kitkan memori  memerlukan keahlian tersendiri. Menulis harus mengatasi diri-sendiri, mengelola pikiran dan bersikaplah seperti orang bodoh yang sedang belajar, selalu siap menjadi orang yang banyak belajar, siap merendah, rendah hati dan meng- hindari kesombongan. Menulis itu sama artinya kita dalam proses belajar. Letupan-letupan ide yang memperkaya pikiran itu harus ditemukan dan dituangkan poinnya dalam catatan-catatan kecil.

Setiap masalah bisa dituliskan setiap saat, apapun jenis idenya silahkan dituliskan pada waktu yang telah disiapkan, ada waktu utama ada waktu luang. Menulis itu berpikir tentang apa dan bagaimana menulis. Menulis banyak artinya, jangan membuat target yang tidak sesuai dengan kemampuan. Gunakan strategi yang sesuai dengan kemampuan pribadi.

Kiat mengorganisasikan kata-kata agar tulisan enak dibaca adalah lewat latihan, menata kalimat. Menulis itu keterampilan, membutuhkan writing skill, keterampilan itu akan menjadi mahir ketika dipraktekkan dan dilatih. Lama kelamaan akan menjadi baik. Tulisan itu merupakan komuni- kasi yang ringan dan enak. Gunakan bahasa yang bisa dipahami banyak orang. Menulis itu ada dukungan antar kalimat dan antar paragraf. Hal ini butuh latihan dan praktik sepanjang waktu. Saat dilatih kita akan menemukan diri kita sendiri dalam menulis.


Sesi Tanya jawab perkulihan kali ini sangat berbeda,di mana ada 27 pertanyaan. Antusias peserta dapat di ancungkan jempol.kemudian pemaparan materi dari Narasumber menggunakan pesan audio di sertai Power poin. suatu pemaparan yang komplit.di tambah lagi pertanyaan demi pertanyaan dari peserta di jawab oleh narasumber dengan pesan audio.seolah olah kita bertatap muka di Dunia nyata. Semoga dengan pencerahan malam ini ,kita semua dapat membagi waktu dalam menulis,walau di hadapkan dengan kesibukan di Dunia..amin..


Kesimpulan :

Kesibukan setiap Orang selalu ada, seorang petani sibuk dengan mengolah sawah ladangnya. Seorang guru pasti sibuk mempersiapkan bahan ajar bagi peserta didiknya  dan lain sebagainya. Memang kesibukan tidak akan habis dan selalu ada. Namun, pentingnya menyiasati kesibukan supaya kita bisa  menulis. Menulis dalam kesibukan harus dimaknai sebagai sebuah kewajiban untuk menghibur diri dan bermafaat untuk orang banyak. Memiliki niat yang kuat, komitmen , mendisiplinkan diri, memiliki semangat agar memiliki kekuatan, memilih waktu dan mengatur jadwal yang tepat  agar mampu menekuni dan menuntaskan tulisan. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa merestui keinginan kita,untuk bisa menulis dalam kesibukan, amiin yaa roobal ‘alamiin.



Peresume,
Busahman